Print
PDF
Jan
02

Eben-Haezer

Posted in : Sunday Service Sermons

“Sampai di sini, sampai hari ini Tuhan telah dan selalu menolong kita.”
(1 Samuel 7 : 2-12)

Salah satu penyebab yang membuat umat Israel sering kali gagal dan terpuruk adalah mereka melupakan Allah dan perbuatanNya. Keadaan seperti ini sedang terjadi ketika Samuel dipanggil dan memulai pelayanannya sebagai pemimpin umat Israel. Keadaan seperti ini juga yang membuat mereka tidak lagi mengalami penyertaan Tuhan. Tabut Allah yang mereka andalkan hanya sebagai simbol belaka, yang tanpa makna. Allah membiarkan mereka mengalami kekalahan yang mengenaskan. Di mata bangsa Filistin, Israel dianggap sebagai bangsa pecundang. Tabut perjanjian sebagai simbol kehadiran Allah bagi umat Israel telah dirampas bangsa Filistin. Dengan demikian “telah lenyap kemuliaan dari Israel” (1 Samuel 4:21).

Namun Allah tidak membiarkan tabut-Nya diperlakukan dengan tidak patut. Sehingga bangsa Filistin akhirnya harus melepaskan rampasan tabut Allah. Tetapi tabut Allah tetap tidak kembali kepada umat Israel; selama dua puluh tahun tabut itu tidak berada di antara mereka. Ini berarti umat Israel hidup tanpa mengalami penyertaan Allah. Oleh sebab itu mereka mengeluh kepada Allah atas kondisi yang terpuruk tersebut. Dalam keadaan yang terpuruk dan rusak ini, Samuel tampil dan mengajak seluruh umat Israel mengakui dosa dan bertobat. Dalam kondisi yang terpuruk dan tidak berdaya, ancaman dahsyat dari musuh menyerang. Pada saat itulah mereka berseru kepada Allah dan Allah menolong mereka dengan caraNya yang ajaib.

Eben-haezer, yang berarti batu pertolongan, merupakan batu peringatan tentang pertolongan Tuhan atas umat Israel yang didirikan oleh Samuel. Dengan mendirikan batu tersebut Samuel berkata: “Sampai di sini, hari ini Tuhan telah dan selalu menolong kita.” Apa yang penting dari eben-haezer bukanlah batu itu sendiri, melainkan pertolongan Tuhan atas umat Israel.

Dengan eben-haezer Samuel bermaksud agar:

  1. Umat Israel selalu mengingat akan kebaikan dan pertolongan Tuhan.
  2. Umat Israel selalu mengingat akan kasih-setia Tuhan.
  3. Umat Israel selalu mengingat akan kesalahan mereka, yaitu tidak setia pada Allah.

Relasi yang baik dengan Allah, tidak mungkin tanpa ingatan (memori), karena kita mengenal Allah juga lewat pengalaman kita tentang Allah: kebaikanNya, berkatNya, pertolonganNya, dll. Sehingga tanpa ingatan berarti sama dengan tanpa adanya relasi. Ingatan adalah hal yang sangat penting dalam relasi kita dengan Allah.

Setiap kita pasti telah mengalami kebaikan dan pertolongan Tuhan sepanjang hidup kita. Meskipun tidak setiap hari kita kelanjaran hidup dan tidak setiap tahun kita mengalami keberhasilan usaha kita. Kita tidak boleh melupakan hal-hal yang Tuhan sudah perbuat dalam hidup kita. Kebaikan dan pertolonganNya sudah dan akan selalu kita alami dalam hidup kita.

Benarlah apa yang dikatakan Yeremia dalam kitab Ratapan: “This I recall in my mind, therefore I have hope” (NASB, 3:21).

Hari ini adalah hari kedua kita memasuki tahun 2011. Kita tidak tahu bagaimana perjalanan hidup kita di tahun ini. Kita berharap bahwa tahun ini akan lebih baik bagi kita. Bagi kita yang dalam tahun lalu menghadapi banyak kesulitan dan persoalan, mungkin tahun ini menjadi tanda tanya buat kita, apakah semua akan ada penyelesaian. Life is problem, tidak ada hidup yang tanpa persoalan. Eben-haezer mengingatkan kita bahwa Allah adalah sumber pertolongan kita, Ia akan selalu memberi pertolongan.

Eben-haezer mengingatkan kita bahwa pertolongan Allah pasti selalu ada; namun ini tidak meniadakan kesulitan yang Allah mungkin izinkan terjadi dalam kehidupan anak-anakNya. Pertolongan Tuhan pasti tidak akan terlambat, pertolonganNya pasti datang pada waktunya. Sumber pertolongan bagi umat Israel adalah Allah sendiri, bukan tabut Allah, meskipun tabut melambangkan kehadiran Allah. Tanpa relasi yang benar dengan Allah, tabut hanya sekedar simbol atau “jimat” yang tidak menolong sama sekali.

Eben-haezer mengingatkan kita bahwa kasih setia Allah tidak pernah berkesudahan; namun ini tidak meniadakan tanggung jawab dan kesetiaan kita kepadaNya. Kita selalu terkondisi oleh situasi kehidupan kita yang bisa membuat kita kehilangan kesetiaan kita kepada Tuhan.

Eben-haezer mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia yang cenderung melupakan apa yang harus kita ingat senantiasa. Kita bisa melupakan semua kebaikan Tuhan yang telah kita alami hanya karena satu persoalan yang tidak menyenangkan.

Eben-haezer mengingatkan kita bahwa Allah adalah Allah yang selalu mendengar permohonan pengampunan umat dan anak-anakNya. Ia memulihkan dan mengampuni meskipun umat Israel telah berpaling dari Allah dan berbuat dosa.

Apapun pengalaman kita di tahun yang lalu, kita harus selalu mengingat bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu.” (Ratapan 3:22-23)

Eben Haezer artinya sampai di sini Tuhan telah menolong kita. Jika Tuhan telah hantar sampai saat ini, maka Ia yang setia pasti akan menolong kita menyongsong masa depan - berharaplah pada Tuhan Yesus yang setia.