Print
PDF
Jan
09

Tidak Pilih Kasih

Posted in : Sunday Service Sermons

Sepasang pengantin baru pindah ke lingkungan baru. Esok paginya ketika sarapan, sang istri melihat tetangga menjemur pakaian. “Cuciannya tidak bersih. Dia tidak tahu bagaimana mencuci baju.” Hal yang sama dikatakan setiap kali ia melihat tetangganya menjemur baju. Suaminya diam saja. Satu bulan kemudian, sang istri kaget ketika melihat betapa bersihnya baju yang dijemur. “Wah, dia sudah tahu cara cuci baju yang benar. Siapa yang ngajarin ya?” Suaminya menjawab, “Tadi pagi saya bangun lebih awal membersihkan jendela rumah kita.”

Sebagaimana kasih karunia Tuhan Yesus jatuh kepada siapa saja yang mau percaya & hidup kudus dihadapanNya, demikian juga penghukuman atas orang berdosa. Allah tidak pandang bulu !

Menghakimi adalah hal yang mudah. Tetapi di balik penghakiman, seringkali kita melakukan kesalahan yang sama bahkan yang lebih buruk. Rasul Paulus mengkonfrontir mereka yang merasa berhak menghakimi moral orang lain. Mereka adalah orang yang melakukan hal-hal yang salah tetapi mengutuk orang lain yang melakukan kesalahan yang sama. Mereka tahu firman Tuhan tetapi tidak melakukan, malahan menghakimi orang yang tidak melakukannya. Mungkin yang dituju Paulus adalah orang Yahudi. Mereka merasa lebih baik, lebih suci daripada bangsa non Yahudi yang tidak mengenal Allah. Paulus mengatakan bahwa tidak hanya bangsa non Yahudi yang akan dihakimi, mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan juga akan dihakimi.

Dengan menghakimi orang lain, kita menghakimi diri sendiri karena kita juga melakukan hal yang sama (1,3). Tidak ada seorang pun yang benar. Allah juga akan menghakimi kita karena kesalahan kita dan karena sikap kita mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal penghakiman kita tidak sempurna karena kita menghakimi berdasar penampilan luar, sedangkan Allah menghakimi berdasar apa yang ada di dalam hati.

Ada perbedaan antara yang dimaksud Rasul Paulus di sini dengan yang dimaksud Tuhan Yesus dalam Matius 18 : 15-17 ? Jika ada saudara seiman yang berdosa, maka kita harus menegur dan mengoreksi dia dengan penuh kasih. Itu bukan penghakiman tetapi menunjukkan kebenaran dengan tujuan agar saudara itu bertobat. Sedangkan yang dimaksud Rasul Paulus dalam bagian ini sejalan dengan yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 7 : 2-5.

Rasul Paulus menegaskan bahwa hanya Tuhan yang berhak menghakimi karena Dialah yang memberikan hukum. Dia sempurna, tidak pernah keliru di dalam penghakiman-Nya.

Pertama, penghakiman Tuhan tidak bisa dihindari (1-3). Tidak ada seorang pun luput dari penghakiman Tuhan (bandingkan 2 Kor 5:10).

Kedua, penghakiman Tuhan itu menurut kebenaran (2). Allah tidak menilai menurut selera atau persepsi yang bisa salah tetapi objektif. Sebaliknya, manusia cenderung kritis terhadap semua orang kecuali diri sendiri. Ia merasa puas jika bisa menghakimi orang lain. Thomas Hobbes mengatakan, “Manusia ingin menjaga kebenaran diri dengan mengupas cacat cela orang lain.”

Ketiga, penghakiman Allah berdasarkan perbuatan (6). Ini tidak berarti manusia diselamatkan karena perbuatan baik. Paulus tetap konsisten bahwa manusia diselamatkan oleh anugerah dan iman. Namun ada tidaknya iman di dalam hati akan nyata dengan ada tidaknya perbuatan kasih di dalam hidup kita. Hati yang penuh iman akan melimpah dalam sikap dan perbuatan baik. Perbuatan akan menjadi saksi kesejatian iman.

Keempat, penghakiman Allah itu balasannya setimpal (6-10). Allah akan membalas sepatutnya. Ia memberikan berkat kepada orang yang tekun berbuat baik tetapi penderitaan kepada orang yang lalim.

Kelima, penghakiman Allah tidak pilih kasih (11). Semua orang berdosa. Semua orang akan dihakimi. Bangsa Israel akan dihakimi sesuai Taurat yang mereka miliki. Bangsa non Yahudi akan dihakimi berdasar Taurat yang tertulis dalam hati mereka. Tidak ada alasan bahwa manusia tidak mengenal Allah sebab semua itu jelas bagi mereka (14-15).