Print
PDF
Jan
30

Kerajaan Allah & KebenaranNya

Posted in : Sunday Service Sermons

Mayoritas orang Kristen mengenal ayat di atas, bahkan ada yang menjadikannya sebagai ayat emas dalam hidup mereka! Hal tersebut boleh-boleh saja, sah-sah saja. Apalagi memang tema kerajaan Allah atau kerajaan Sorga merupakan pembahasan pokok pemberitaan Tuhan Yesus dalam Injil sinoptis (Matius, Markus dan Lukas). Apakah yang dimaksud dengan kerajaan Allah atau kerajaan Sorga? Ada beberapa pandangan mengenainya:

Yang pertama, pandangan dari Gereja Katolik. Gereja Katolik menyamakan Kerajaan Allah dengan gereja yang ada di dunia ini. Melalui hierarki gereja, Kristus diwujudkan sebagai Raja dari Kerajaan Allah, ruang lingkup kerajaan adalah sama dengan batas kekuasaan dan kekuatan gereja di dunia ini. Dan perluasan kerajaan terjadi melalui misi dan perkembangan gereja di dunia.

Pandangan kedua, pandangan dari Gereja Reform. Para reformator lebih menekankan makna rohani dari kerajaan Allah, di mana kerajaan Allah adalah: gereja yang tidak “terlihat”/gereja yang am. Di mana Kristus adalah Raja dari Kerajaan Allah yang memiliki kekuasaan secara absolut. Dan para pengikutnya telah dibebaskan oleh kuasa sang Raja dengan tujuan hanya menyembah sang Raja saja.

Pandangan ketiga, pandangan dari Gereja Liberal. Pandangan ini dikembangkan lebih secara moralistis, sehingga Kerajaan Allah disamakan dengan tersebarnya damai, kasih, dan kebenaran di dunia ini.

Sebagai anak Tuhan, kita diperintahkan untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya. Apa artinya, mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya? Mencari dahulu kerajaan Allah berarti berbicara mengenai prioritas, ambisi dan obsesi hidup. Di mana kita diminta untuk memprioritaskan kerinduan utama hidup kita di bawah otoritas Kristus sebagai Sang Raja serta mengusahakan pelebaran kerajaan-Nya dengan segala daya upaya yang memung-kinkan, baik secara moral, sosial maupun goegrafis, juga secara pribadi, batiniah dan rohaniah.

Dengan mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka kita dibebaskan dari beberapa hal:

Yang pertama, dari hidup yang berpusat kepada diri sendiri. Hidup yang berpusat kepada diri sendiri adalah salah satu penyebab dari kekuatiran. Ketika kita mencari dahulu kerajaan Allah maka kita akan memusatkan prioritas, ambisi dan obsesi hidup kita hanya kepada Allah saja. Dan ketika seluruh perhatian kita tertuju pada Allah maka otomatis perhatian kita juga akan tertuju pada Allah (tidak kepada diri sendiri lagi).

Yang kedua, dari arah hidup yang salah. Arah hidup yang salah terjadi ketika seseorang tidak bisa membedakan lagi mana yang tidak penting, yang kurang penting dan yang penting menurut sudut pandang Allah. Ketika kita mengarahkan hidup kita untuk mencari dahulu kerajaan Allah maka banyak hal yang tadinya kita pikir, kita membutuhkannya (karena menurut kita, penting) ternyata kita sadari bahwa kita tidak membutuhkannya (karena kurang penting atau bahkan tidak penting sama sekali). Di dalam proses pencarian kerajaan Allah maka Allah akan terus mengasah dan membuat peka hati kita terhadap hal yang penting, kurang penting dan yang tidak penting.

Yang ketiga, dari mengabdi kepada tuan yang salah. Sangat disayangkan, banyak orang Kristen yang “allahnya” adalah mammon dan bukan Kristus. Dengan begitu, mereka menjadi penyembah berhala sekaligus juga “mengabdi” kepada Tuhan Yesus. Dalam Matius 6:24, Tuhan Yesus dengan tegas berkata bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Kita diperintahkan untuk memilih, mau mengabdi kepada siapa? Apakah kepada Tuhan Yesus atau mengabdi kepada mammon? Hanya bisa pilih, salah satu saja. Dalam proses pencarian dahulu kerajaan Allah diperlukan adanya kesetiaan dan ketaatan mutlak kepada Kristus, sang Raja kerajaan. Dan saat kita sungguh merajakan Sang Raja kerajaan tersebut berarti kita menyadari bahwa diri kita ini hanyalah seorang hamba. Hamba dari Kristus Yesus dan bukan yang lain.